Antara Mata dan Mata Hati
Banyak dari kita berlari mengejar dunia dengan segala kemewahannya. Menggenggam mimpi setinggi langit, berharap bisa mencicipi megahnya panggung kehidupan.
Tapi di sisi lain, tak sedikit pula yang berhenti di tengah jalan putus asa, kehilangan arah, bahkan tak lagi punya cita-cita untuk sekadar menyentuh indahnya dunia.
Bukan tanpa sebab. Rasa itu lahir dari kenyamanan yang
paling dalam, dari lubuk hati yang sunyi. Karena pada akhirnya, pilihan antara
mengejar kemegahan atau mencari ketenangan, selalu bersumber dari hati tempat
paling jujur yang kita miliki.
Kenapa harus dari lubuk hati yang terdalam?
Sebab apa yang dilihat oleh mata, seringkali tak sebanding nilainya dengan apa yang dirasakan oleh mata hati. Keindahan yang ditetapkan oleh pandangan mata tak pernah abadi. Ia mudah berubah, tergantung pada apa yang lebih menarik di hadapan kita.
Berbeda dengan mata hati sekalipun kadang buram, nilainya tidak mudah goyah.
Sebab mata hati tidak memakai lensa penglihatan, tapi rasa.
Namun begitu, hati tidak bisa dijadikan satu-satunya dasar
kebenaran. Ia bisa saja lembut, tapi juga bisa bias. Karena itu, akal mesti
hadir bukan untuk menyaingi hati, tapi untuk menyeimbanginya. Hati memberi
rasa, akal memberi arah. Tanpa keduanya berjalan beriringan, penilaian kita
bisa pincang.
Contohnya sederhana.
Ketika menonton film Layangan Putus, banyak yang terbawa emosi mencaci Aris, memihak Kinan, atau justru sebaliknya. Semua tergantung dari sudut pandang mana kita menilai.
Apakah kita
melihat dari kaca mata perasaan? Dari logika yang jernih? Atau sekadar ikut
arus perasaan publik yang bising tapi dangkal?
Padahal, seseorang yang memiliki jiwa kuat dan utuh akan berdiri di atas pikiran yang objektif. Ia menimbang sesuatu dengan hati yang sadar dan akal yang bekerja.
Setiap peristiwa yang datang, ia telaah matang-matang. Ia tak mudah goyah oleh narasi yang digoreng atau opini yang ramai.
Ia bertanya apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang memainkan peran?
Mengapa kisah itu muncul? Dan untuk kepentingan siapa?
Menilai sesuatu memang perlu ditarik jauh ke belakang agar
kita melihat konteks, bukan hanya adegan. Sebab tak semua yang tampak di depan
mata adalah kebenaran yang utuh.
Maka jangan jadikan diri kita seperti layangan putus terombang-ambing mengikuti arah angin opini.
Jadilah seperti pemainnya yang tahu kapan harus menarik benang, kapan harus
melepaskannya, dan bagaimana menjaga agar layangan tetap tinggi di udara.
Ketika layangan putus, pemain yang sejati tidak berdiam diri. Ia mengejar, memperbaiki, dan menerbangkannya lagi.
Sebab hidup, sejatinya, adalah tentang memberi “layanan tanpa putus” kepada diri sendiri, kepada sesama, dan kepada
kebenaran.

0 Komentar