Nasi Goreng, Politik, dan Rasa yang Tidak Bisa Dipaksa
Malam ini pukul 21.25 WIB, saya dibelikan istri nasi goreng jawa. Rasanya ya
seperti nasi goreng Jawa pada umumnya. Tapi ada satu hal yang justru membuat
saya tersenyum; tulisan di bagian atas kotak putih tempat nasi itu dibungkus:
“Jawa Pedas.”
Dua kata sederhana. Lucu. Tapi menggelitik pikiran saya.
“Jawa Pedas.”
Bungkusnya kecil, tapi istilah itu terasa lebar. Seolah-olah
Jawa itu satu rasa, satu warna, satu karakter, dan tentu saja pedas. Padahal
kalau kita membuka mata sedikit saja, kita akan sadar bahwa Jawa tidak pernah
sesempit itu.
Ada yang pedas, ada yang manis, ada yang gurih, ada yang
hambar, ada yang suka bawang banyak, ada yang pakai ayam, ada yang tanpa
topping. Sama seperti manusianya; beragam, luas, dan berwarna.
Ironisnya, di saat nasi goreng saja bisa punya banyak versi,
politik kita masih sering memaksa orang untuk memilih satu rasa. Kalau tidak
satu kubu, pasti kubu seberang. Kalau tidak merah, ya biru. Kalau tidak kanan,
ya kiri. Semua serba dikotakkan. Seolah-olah perbedaan itu harus dicurigai,
bukan dipahami.
Padahal sejak dulu, bangsa ini hidup dari keberagaman.
Pancasila pun tidak lahir dari satu budaya atau satu kelompok. Ia lahir dari
kesadaran bahwa Indonesia bukan satu warna, melainkan kain tenun yang disatukan
dari banyak benang.
Kalau kita kembali ke Al-Qur’an pun, Allah sendiri sudah
menjelaskan bahwa manusia memang diciptakan berbeda-beda, agar saling mengenal,
bukan saling meniadakan.
Namun entah kenapa, makin banyak yang ingin semuanya sama.
Satu cara berpikir, satu cara memilih, satu rasa nasi goreng.
Padahal hidup memang tidak dirancang untuk sama. Bahkan
keluarga saja tidak satu selera. Buktinya, istri beli pedas, suami belum tentu
kuat. Tapi cinta tetap jalan, bukan?
Mungkin tulisan kecil “Jawa Pedas” itu justru mengingatkan
saya pada sesuatu yang sederhana; bangsa ini seharusnya merayakan rasa, bukan
meniadakannya.
Kita tidak harus setuju dalam semua hal. Kita tidak harus
memilih dan mendukung orang dan kebijakan yang sama. Kita tidak harus
menyembunyikan perbedaan. Yang kita butuhkan hanyalah satu, yaitu menerima
bahwa keberagaman bukan ancaman.
Kalau nasi goreng saja bisa diterima dalam berbagai rasa,
masa persaudaraan sesama bangsa kalah fleksibel dibanding wajan dan kecap?
Sementara hari ini, saya tetap melahap nasi goreng saya.
Pedasnya lumayan. Tapi lucunya lebih terasa. Dan mungkin, dari sebuah kotak
nasi sederhana, saya belajar lagi bahwa Indonesia besar bukan karena satu rasa,
melainkan karena semua rasa ada, tetap utuh dalam satu kotak yang sama. Negara
bernama Indonesia!

0 Komentar