Letak Masalahnya itu selalu “Menuruti Kita”
Saya duduk cukup lama berdiskusi dengan pikiran sendiri, selepas menuntaskan beberapa kerjaan. Tidak ada masalah besar, sebenarnya.
Tidak ada kejadian luar biasa.
Tapi entah kenapa, rasanya sumpek.
Seperti ada yang tidak beres, tapi tidak tahu apa. Sampai-sampai, tidak sadar
kopi Timor Leste satu gelas sudah habis saya teguk.
Setelah dipikir-pikir, ternyata
sederhana:
selalu terbesit rasa gelisah, bahwa hidup tidak berjalan seperti yang
diinginkan.
Dan mungkin, di situlah letak masalahnya.
Sejak kecil, diajari
untuk punya mimpi.
Punya
target. Punya rencana.
Lalu pelan-pelan, tanpa sadar, kita
mulai percaya satu hal:
bahwa hidup yang baik adalah hidup yang sesuai rencana kita.
Padahal, hidup jarang sekali mau
bekerja sama.
Kita ingin A, yang datang B.
Kita berharap cepat, yang terjadi justru lambat.
Kita merasa sudah berusaha, tapi hasilnya tidak ke mana-mana.
Lalu kecewa.
Bukan karena hidup terlalu keras.
Tapi karena kita terlalu yakin hidup akan nurut.
Yang lebih lucu lagi, kita sering
menyalahkan diri sendiri.
“Kok aku begini sih?”
“Kenapa tadi aku tidak melakukan itu?”
“Harusnya aku bisa lebih baik.”
Seolah-olah kita ini musuh bagi diri
kita sendiri.
Padahal kalau dipikir, kita ini
sudah cukup lelah menghadapi dunia.
Masih harus berhadapan dengan diri sendiri yang tidak pernah puas.
Di dalam kepala sendiri saja sudah
ramai.
Pikiran bertabrakan, keinginan tidak jelas arahnya.
Kadang ingin berubah, tapi juga
ingin nyaman.
Kadang ingin maju, tapi takut gagal.
“Akhirnya bukan dunia yang membuat
kita lelah, tapi diri sendiri yang tidak pernah selesai.”
Saya juga baru sadar, banyak hal
yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan terlalu jauh.
Masalah itu memang ada.
Tapi sering kali yang membuatnya berat adalah kita sendiri.
Kita putar ulang di kepala.
Kita tambahkan cerita.
Kita dramatisir sedikit demi sedikit.
Padahal kalau berhenti sejenak, minum
segelas kopi, membaca buku, menonton beberapa film, dan semuanya akan terlupakan
perlahan, kembali seperti biasa.
Seperti luka kecil yang terus kita
sentuh—
bukan makin sembuh, malah makin terasa.
Ada satu hal yang cukup menampar
saya beberapa hari ini.
Bahwa selama ini, bukan hidup yang
membuat saya tidak tenang.
Tapi keinginan saya sendiri.
Saya ingin ini.
Saya ingin itu.
Saya ingin hidup seperti orang lain.
Tanpa sadar, keinginan-keinginan itu
terlalu jauh dari apa yang bisa dijangkau.
Dan setiap kali tidak tercapai, akan ada kecewa.
Lalu mengulang siklus yang sama. Padahal,
mungkin hidup tidak pernah salah. Yang salah, mungkin cara kita menginginkan
sesuatu.
“Kita ini sering ingin semuanya, padahal
kemampuan kita terbatas.”
Kita ingin hasil besar, tapi usaha biasa saja.
Kita ingin hidup tenang, tapi pikiran ke mana-mana.
Kita ingin bahagia, tapi sibuk membandingkan.
Tidak semua hal harus masuk ke dalam
hidup kita.
Tidak semua hal harus kita miliki.
Tidak semua hal harus kita pikirkan.
Dan ternyata, menjalani hidup jadi
sedikit lebih ringan. Karena kita membebaskan segela ketergantungan pada segala
hal “absurd” yang kita ciptakan sendiri.
Karena sejatinya. Semakin banyak
yang kita inginkan di luar kendali,
semakin kita bergantung. Dan semakin kita bergantung, semakin kita tidak bebas.
Satu kesimpulan sederhana, juga
nasehat bagi saya, bahwa; hidup tidak harus sesuai dengan keinginan saya. “Yang
perlu diubah, bukan hidupnya, tapi keinginan saya.”
Belajar menginginkan apa yang memang
bisa saya jalani.
Belajar menerima apa yang memang sudah terjadi.
Belajar fokus pada apa yang bisa saya kerjakan hari ini.
Mungkin hidup tidak akan jadi
sempurna. Tapi setidaknya, tidak lagi terasa melawan, serta sadar untuk
berhenti memaksa mengubah apa yang sudah digariskan.
Akhirnya itu juga yang akan jadi sebuah
tindakan kepasrahan ilahiah, bahwa hari esok, bahkan hari ini sudah yang manakar,
dan bagian kita sebagai hamba adalah melakukan apa yang sering kita sebut
dengan Ikhlas.
Karena, selalu letak masalahnya itu selalu “Menurut Kita” bukan kesadaran
bahwa “atas Kehendaknya.”
*) Refra Elthanimbary, nestref.com

0 Komentar