Takut

 

Kita sering ingin menghilangkan takut.

Secepat mungkin. Seolah ia penyakit.

Padahal, bisa jadi justru ia obat.

Coba bayangkan satu hal sederhana.

Bagaimana jika kita tidak bisa merasakan sakit?

Tangan kita bisa terbakar—tanpa kita sadar.

Luka bisa membusuk—tanpa kita peduli.

Rasa sakit, yang sering kita keluhkan itu, ternyata penjaga.

Begitu juga takut. Ia bukan musuh. Ia alarm.

Masalahnya, kita sering mematikan alarm itu. Atau sebaliknya, panik oleh alarm yang sebenarnya tidak perlu.

Sebagian besar ketakutan kita, anehnya, tidak benar-benar nyata.

Ia lahir di kepala.

Kita membayangkan gagal… lalu berhenti sebelum mencoba.

Kita membayangkan ditolak… lalu memilih diam.

Kita membuat skenario terburuk… lalu mempercayainya.

Padahal belum terjadi apa-apa.

Pikiran kita memang pandai. Tapi kadang terlalu kreatif.

Ia bisa menciptakan “bahaya” yang tidak ada.

Dan kita ikut takut pada ciptaan sendiri.

Saat takut datang, pilihan kita biasanya hanya dua.

Lari. Atau menghadapi.

Lari memberi rasa aman sesaat. Tapi jika terlalu sering, hidup kita jadi sempit.

Menghadapi memang tidak nyaman. Tapi di situlah ruang kita melebar.

Tidak ada yang salah dari keduanya.

Yang salah, kalau kita tidak pernah memilih dengan sadar.

Menariknya, dalam Al-Qur’an ada kalimat yang sering berulang:

jangan takut, dan jangan bersedih.

Takut itu urusan masa depan. Sedih itu urusan masa lalu.

Seolah kita diminta kembali ke satu titik: sekarang.

Tapi di saat yang sama, kita justru diperintahkan untuk takut—kepada Allah.

Di sinilah uniknya.

Semakin seseorang takut kepada Allah, semakin ia tidak takut kepada apa pun.

Takut yang satu ini tidak membuat lari.

Justru membuat pulang.

Tidak semua takut itu sama.

Ada takut yang sehat.

Takut berbuat salah.

Takut kehilangan arah.

Takut menyia-nyiakan amanah.

Takut seperti ini membuat kita hidup.

Tapi ada juga takut yang melemahkan.

Takut dinilai orang.

Takut gagal.

Takut tidak cukup.

Padahal belum tentu ada apa-apa.

Ini bukan lagi alarm.

Ini suara bising di kepala.

Dalam tradisi Islam, ada istilah: takut yang hanya ilusi.

Takut yang tidak punya dasar.

Obatnya bukan keberanian yang dipaksakan.

Tapi kejujuran.

Tanya ke diri sendiri:

ini nyata… atau hanya pikiran saya saja?

Seringnya, jawabannya sederhana.

Kita hanya terlalu jauh berpikir.

Imam Al-Ghazali pernah memberi gambaran yang menarik.

Hidup ini seperti burung.

Ia butuh dua sayap: takut dan harap.

Kalau hanya takut, ia tidak akan terbang.

Kalau hanya berharap, ia bisa jatuh. Harus seimbang.

Saat kita mulai merasa “aman sekali”, mungkin kita perlu takut.

Saat kita mulai putus asa, mungkin kita perlu berharap.

Di titik ini, kita mulai paham.

Takut bukan untuk dihilangkan.

Tapi untuk dikelola.

Didengar. Diarahkan.

Karena tidak semua takut harus dilawan.

Sebagian justru harus diikuti.

Sebagian lagi harus diluruskan.

Barangkali selama ini kita terlalu sibuk mengusir takut.

Sampai lupa satu hal penting:

takut itu sering datang membawa pesan.

Bahwa kita perlu berhenti.

Bahwa kita perlu memperbaiki arah.

Bahwa kita tidak sekuat yang kita kira.

Dan itu tidak apa-apa.

Ada satu hal yang menarik.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang takut pada sesuatu biasanya akan menjauh.

Tapi dalam urusan ini berbeda.

Semakin seseorang takut kepada Allah, justru ia semakin mendekat.

Bukan menjauh. Di situlah letak tenangnya.

Jadi mungkin pertanyaannya bukan lagi:

bagaimana menghilangkan takut?

Tapi: takut ini sedang mengarahkan saya ke mana?

Karena bisa jadi, rasa takut yang kita rasakan hari ini…

bukan tanda kita lemah.

Tapi tanda kita masih dijaga.

*) Refra, nestref.com

0 Komentar

Type above and press Enter to search.