Usaha, Hasil, Tawakal
Pagi ini saya kembali dihadapkan pada satu cerita yang rasanya sangat dekat dengan kehidupan kita semua. Seorang teman bercerita tentang wali siswa yang bertanya, “Mengapa setiap usaha yang saya lakukan tidak pernah sesuai dengan hasil yang saya harapkan? Padahal rasanya sudah maksimal.”
Pertanyaan
itu sederhana. Tapi diam-diam, dalam.
Saya
langsung teringat pada pepatah yang sejak dulu sering kita dengar: “Usaha
tidak pernah mengkhianati hasil.” Kalimat yang terdengar menenangkan, tapi
dalam kenyataannya… tidak selalu terasa demikian.
Karena
faktanya, ada orang yang sudah berusaha dengan sangat serius, terencana, total,
bahkan mungkin lebih dari yang lain, namun hasilnya tetap saja mengecewakan. Dan
anehnya, di sisi lain, ada juga yang terlihat santai, bahkan cenderung pasrah,
tapi justru mendapatkan hasil yang tidak buruk.
Di
titik itu, wajar kalau muncul pertanyaan:
benarkah setiap usaha pasti berbanding lurus dengan hasil?
Saya
pernah ada di fase itu.
Waktu
itu saya begitu giat mencari pekerjaan freelance. Saya hubungi banyak orang, semua
koneksi yang saya rasa punya potensi. Puluhan nomor saya coba. Harapannya
sederhana: minimal ada respons, ada pintu yang terbuka.
Tapi
yang terjadi justru sebaliknya. Tidak ada jawaban. Sepi.
Sampai
akhirnya saya lelah. Bukan berhenti, tapi lebih ke… pasrah. Saya berhenti
mengejar dengan cara yang sama.
Dan
justru di momen itu, notifikasi masuk.
Bukan
dari orang-orang yang saya hubungi. Tapi dari akun media sosial yang sama
sekali tidak pernah saya sentuh sebelumnya. Seolah datang dari arah yang tidak
saya duga.
Di
situ saya sempat diam. Dan bertanya dalam hati:
sebenarnya bagaimana cara kerja “usaha” itu?
Kalau
dihitung secara logika, harusnya sederhana. Misalnya saya menghubungi 50 orang,
mungkin 5 orang merespons. Ada pola, ada rasio, ada hitungan.
Tapi
hidup ternyata tidak bekerja sesederhana itu.
Di
situlah saya mulai memahami, pelan-pelan, bahwa usaha dan hasil itu tidak
selalu berada dalam garis lurus yang bisa kita prediksi. Ada sesuatu yang
bekerja di luar itu.
Dalam
Islam, kita mengenal dua hal yang sering disebut beriringan: ikhtiar dan
tawakal.
Ikhtiar
adalah usaha terbaik yang bisa kita lakukan. Total, serius, tidak
setengah-setengah.
Sedangkan tawakal adalah kesadaran penuh bahwa hasil akhirnya bukan di tangan
kita.
Masalahnya,
sering kali kita terbalik.
Kita
sudah berusaha, tapi hati kita masih “menggantung” pada hasil. Kita ingin
hasilnya sesuai dengan skenario kita. Ketika tidak terjadi, kita kecewa. Bahkan
kadang mempertanyakan.
Padahal
mungkin, tawakal yang benar justru dimulai setelah usaha itu dilakukan dengan
sungguh-sungguh. Lalu kita lepaskan hasilnya.
Bukan berarti berhenti berusaha. Tapi berhenti mengontrol apa yang
memang bukan wilayah kita.
Karena
bisa jadi, usaha yang kita lakukan tidak selalu langsung menghasilkan “hasil”
dalam bentuk yang kita inginkan. Tapi ia tetap berbuah, hanya saja bentuknya
berbeda.
Mungkin
bukan sekarang.
Mungkin bukan dari arah yang kita rencanakan.
Atau mungkin bukan dalam bentuk yang kita bayangkan.
Dan
di titik itu, saya mulai melihat bahwa usaha tidak pernah benar-benar sia-sia.
Hanya saja, kita sering menyempitkan makna “hasil” sebatas apa yang terlihat.
Lalu bagaimana posisi usaha dan tawakal?
Mungkin
begini sederhananya:
berusahalah seolah semua bergantung pada usahamu,
tapi bertawakallah seolah semua sudah ditentukan.
Di
antara dua itu, kita berjalan.
Tidak
terlalu menggenggam, tapi juga tidak melepaskan sepenuhnya.
Karena
pada akhirnya, bukan soal apakah usaha kita selalu menghasilkan sesuai
keinginan. Tapi apakah dalam proses itu, kita semakin dekat… atau justru
semakin jauh dari dari Nya.
*) Refra Elthanimbary, nestref.com

0 Komentar