Ade Armando dan Paradoks Intelektual
Di ruang publik Indonesia hari ini, Ade Armando tampil sebagai sosok yang penuh kontradiksi. Ia datang dengan identitas akademisi, tetapi lebih sering hadir di ruang digital sebagai provokator opini. Alih-alih membangun diskusi sehat, gaya komunikasinya justru kerap memantik kegaduhan dan memperlebar polarisasi.
Dengan latar belakang ilmu
komunikasi, ia tentu paham bagaimana membentuk opini, memainkan emosi publik,
dan menciptakan efek viral. Masalahnya, kemampuan itu sering digunakan bukan
untuk memperkuat kualitas dialog publik, tetapi untuk menyerang, menyudutkan,
dan membelah masyarakat dalam kubu-kubu yang saling membenci.
Ia mengaku membawa semangat
keterbukaan dan inklusivitas. Namun praktik komunikasinya justru sering
monologis: menyerang lebih dulu, memberi label, lalu menggiring opini tanpa
ruang dialog yang sehat. Kritik yang seharusnya mencerahkan berubah menjadi pertunjukan
provokasi digital.
Agama Dijadikan Bahan Kejut
Publik
Salah satu pola paling menonjol
dari Ade Armando adalah menjadikan isu agama sebagai alat menciptakan sensasi.
Pernyataan-pernyataannya tentang azan, hadis, salat, hingga sifat ketuhanan
bukan sekadar kritik akademik, tetapi sering disampaikan dengan nada meremehkan
dan memancing kemarahan publik.
Masalah utamanya bukan hanya isi
kritik, tetapi cara menyampaikannya. Dalam masyarakat religius seperti
Indonesia, pendekatan yang sinis dan provokatif hanya akan melahirkan benturan
sosial, bukan pencerahan intelektual.
Ia berkali-kali menggunakan diksi
seperti “bodoh”, “dungu”, atau “dodol” kepada kelompok yang berbeda pandangan.
Ini bukan sekadar bahasa kasar, tetapi strategi untuk memberi cap bahwa lawan
bicara tidak layak dihormati. Akibatnya, ruang diskusi berubah menjadi arena
penghinaan.
Yang terjadi kemudian adalah
munculnya “echo chamber”: kelompok pendukung merasa paling progresif,
sementara kelompok lain dianggap kolot dan musuh perubahan. Cara seperti ini
bukan membangun demokrasi, tetapi merusak budaya dialog.
Kritik Politik yang Berubah
Menjadi Serangan Personal
Pola yang sama juga terlihat
dalam serangannya kepada tokoh publik. Kritik politik tidak lagi berhenti pada
gagasan atau kebijakan, tetapi masuk ke wilayah pembunuhan karakter.
Ketika ia menggambarkan Anies
Baswedan sebagai “Joker”, itu bukan kritik biasa. Itu adalah upaya membangun
citra bahwa lawan politik adalah sosok berbahaya dan manipulatif. Politik
akhirnya dipenuhi framing emosional, bukan adu gagasan.
Kasus lain muncul saat potongan
video ceramah Jusuf Kalla disebarkan tanpa konteks utuh. Potongan informasi
digunakan untuk menggiring persepsi negatif. Ini berbahaya, karena publik tidak
lagi diberi kesempatan memahami keseluruhan pesan secara adil.
Di era digital, potongan video
bisa lebih mematikan daripada fitnah biasa. Sekali viral, kerusakan reputasi
sulit dipulihkan. Dan pola seperti ini terus dipelihara demi engagement dan
tepuk tangan algoritma.
Dari Kegaduhan Digital ke
Konflik Nyata
Yang paling berbahaya, provokasi
di media sosial tidak berhenti di layar ponsel. Kebencian yang terus dipelihara
akhirnya turun ke dunia nyata.
Kasus pengeroyokan terhadap Ade
Armando pada demonstrasi 11 April 2022 menjadi bukti bahwa polarisasi digital
bisa berubah menjadi kekerasan fisik. Ini memang tidak bisa dibenarkan. Tetapi
peristiwa itu juga menunjukkan bahwa komunikasi yang terus memancing emosi
publik akan melahirkan akumulasi kemarahan sosial.
Di sisi lain, proses hukum yang
sering tidak jelas terhadap berbagai kontroversinya membuat sebagian masyarakat
merasa ada standar ganda dalam penegakan hukum. Ketika publik merasa hukum
tidak bekerja adil, lahirlah frustrasi sosial yang berbahaya.
Negara tidak boleh membiarkan
ruang publik diisi oleh provokasi tanpa batas, tetapi juga tidak boleh
membiarkan massa merasa berhak menjadi hakim jalanan.
PSI dan Beban Reputasi
Mundurnya Ade Armando dari Partai Solidaritas Indonesia
(PSI) menunjukkan satu hal penting: kegaduhan digital memang bisa
mendatangkan perhatian, tetapi tidak selalu membawa keuntungan politik jangka
panjang.
Awalnya ia dianggap aset karena
mampu menciptakan viralitas. Namun lama-kelamaan, kontroversi yang terus muncul
justru menjadi beban citra bagi partai. Politik tidak hanya soal keberanian
bersuara, tetapi juga kemampuan menjaga kepercayaan publik secara luas.
Keputusan itu terlihat sebagai langkah penyelamatan citra. PSI tampaknya sadar bahwa publik Indonesia tidak menyukai gaya komunikasi yang terlalu kasar, konfrontatif, dan gemar mempermainkan isu sensitif.
Ketika Kritik Kehilangan Etika
Fenomena Ade Armando
memperlihatkan bagaimana kecerdasan intelektual bisa berubah menjadi alat
polarisasi ketika tidak disertai tanggung jawab moral.
Kritik tentu penting dalam
demokrasi. Tetapi kritik yang sehat bertujuan membangun kesadaran, bukan
menciptakan permusuhan. Ketika ruang publik dipenuhi hinaan, framing
manipulatif, dan provokasi emosional, masyarakat kehilangan kemampuan berdialog
secara dewasa.
Masalah terbesar dari gaya
komunikasi seperti ini bukan hanya kegaduhan sesaat, tetapi rusaknya budaya
berpikir publik. Orang akhirnya lebih sibuk membenci daripada memahami. Lebih
cepat marah daripada mencari kebenaran.
Jika pola komunikasi seperti ini
terus dianggap normal, Indonesia tidak sedang bergerak menuju demokrasi yang
matang, tetapi menuju masyarakat yang mudah diadu, mudah diprovokasi, dan
kehilangan kedewasaan dalam menghadapi perbedaan.
*) Supriyanto Refra, Wasekjend PP Pemuda Hidayatullah
.png)
0 Komentar