Ketika Cerdas Cermat MPR Kehilangan Kecermatan
Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI yang seharusnya menjadi ajang edukatif justru berubah menjadi polemik nasional setelah potongan videonya viral di media sosial.
Masalah bermula dari sesi rebutan saat dua tim peserta memberikan jawaban yang dinilai memiliki inti yang sama. Namun hasil penilaiannya berbeda. Satu tim mendapat poin, tim lainnya justru dikurangi nilainya. Keputusan itu langsung memicu protes, baik dari peserta maupun publik yang menonton video tersebut.
Yang membuat persoalan ini membesar bukan sekadar soal benar atau salah. Publik melihat adanya ketidakkonsistenan dalam penilaian. Dalam kompetisi yang membawa nama lembaga negara dan berbicara tentang pendidikan kebangsaan, standar penilaian seharusnya jelas, terukur, dan tidak menimbulkan multitafsir.
Penjelasan mengenai gangguan audio dan jawaban yang tidak terdengar jelas memang disampaikan. Tetapi alasan teknis justru memperlihatkan lemahnya kesiapan penyelenggaraan. Jika perangkat suara menjadi faktor penentu diterima atau tidaknya jawaban peserta, maka sejak awal sistem perlombaan sudah bermasalah.
Ini bukan sekadar kesalahan kecil di atas panggung. Kepercayaan peserta dipertaruhkan. Pelajar datang membawa persiapan panjang, sementara publik berharap kompetisi berjalan profesional. Ketika keputusan juri dianggap tidak adil, yang rusak bukan hanya suasana lomba, tetapi juga kredibilitas acara.
Viralnya kasus ini juga menunjukkan bahwa masyarakat semakin kritis terhadap setiap proses yang dianggap tidak transparan. Publik hari ini tidak mudah menerima keputusan hanya karena berasal dari otoritas. Semua bisa dianalisis ulang melalui rekaman video yang tersebar luas.
Penyelenggara perlu memahami bahwa di era digital, transparansi bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan utama. Kompetisi pendidikan tidak cukup hanya berjalan meriah. Sistemnya juga harus siap diuji publik.
Jika evaluasi hanya berhenti pada klarifikasi formal tanpa pembenahan nyata, polemik serupa akan terus berulang. Dan yang paling dirugikan adalah para peserta didik yang seharusnya belajar tentang kejujuran, sportivitas, dan keadilan dari sebuah perlombaan.
*)Refra/nestref.com

0 Komentar