Menatap Cermin Ali Imran 98

 

"Katakanlah (Muhammad), 'Wahai Ahli Kitab! Mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan?'" (QS. Ali Imran [3]: 98)

Tulisan ini lahir sepulang Halaqah Rutin Marhalah Wustho’ DPD Hidayatullah Kota Batu, setelah menyimak sedikit materi dari Gus Homaidi dan Ustadz Budiman.

Dalam perjalanan pulang, QS. Ali Imran ayat 98 terus terngiang di kepala. Ayat ini terasa sangat dekat dengan keseharian kita: pendidikan, kaderisasi, hingga organisasi massa Islam.

Ada asumsi yang sering kita pakai saat melihat kekufuran atau kegagalan sebuah komunitas, yaitu semuanya dianggap bermula dari kebodohan dan kurangnya ilmu.

Namun, QS. Ali Imran ayat 98 memberi koreksi tajam. Ayat ini ditujukan kepada Ahli Kitab yang sebenarnya sudah memegang kitab suci dan sangat memahami tanda-tanda kenabian.

Pertanyaan "lima takfurun" bukanlah karena mereka kurang informasi. Ini adalah teguran atas sikap seseorang saat berhadapan dengan kebenaran yang sebenarnya sudah dia ketahui.

Persoalan manusia memang tidak selalu berhenti pada kata tidak tahu. Ada kalanya seseorang sudah paham, tapi enggan menerima karena gengsi, kepentingan, atau posisi sosial.

Ingkar sebagai Pilihan, Bukan Kealpaan

Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa perintah qul menunjukkan kebenaran harus disampaikan secara tegas, bahkan di hadapan pihak yang menolaknya.

Di sini terlihat jelas perbedaan antara jahil dan sikap keras kepala. Pengetahuan sebenarnya sudah hadir, tapi sikap mau menerima kebenaran tidak mengikuti pengetahuan tersebut.

Penutup ayat, wallahu syahidun 'ala ma ta'malun, menjadi pengingat yang sangat kuat. Allah tidak cuma tahu isi hati, tapi juga menyaksikan tindakan yang lahir dari sikap kita.

Pengingkaran yang paling berbahaya bukanlah karena tidak tahu, melainkan ketika seseorang sudah tahu lalu memilih untuk pura-pura menutup mata.

Saat Luka Lama Diungkit Kembali

Konteks sejarah ayat ini merekam kelakuan Syas bin Qais, tokoh Yahudi yang tidak senang melihat suku Aus dan Khazraj bersatu dalam persaudaraan Islam.

Dia menyuruh seorang pemuda menyusup dan membangkitkan kembali memori Perang Bu'ats lewat syair-syair lama. Upaya provokasi itu hampir saja membuat mereka kembali bertikai.

Pola ini membuktikan bahwa merusak persatuan tidak selalu butuh masalah baru. Cukup dengan membongkar luka lama dan membangkitkan kembali rasa unggul kelompok.

QS. Ali Imran ayat 98–103 mengikat pesan ini secara utuh: kewaspadaan terhadap pihak yang memecah belah, lalu seruan untuk terus berpegang teguh pada tali Allah.

Refleksi Hari ini!

Dunia pendidikan Islam tidak boleh berhenti pada transfer pengetahuan. Pendidikan harus melahirkan kejujuran ilmiah dan keberanian mengakui kebenaran, meski tidak menguntungkan diri sendiri.

Di ranah kaderisasi, keretakan kerap muncul dari persoalan lama yang diungkit kembali. Kader yang matang paham sejarah kelompoknya, tapi tidak membiarkan masa lalu mengunci masa depannya.

Bagi organisasi massa Islam, sosok "Syas bin Qais" hari ini bisa berupa narasi sekelompok orang yang belum “tercerahkan” oleh nilai-nilai yang dianut organisasi atau kepentingan pribadi jangka panjang yang sengaja membenturkan antar kader inti.

Rasulullah ï·º memberi teladan nyata saat meredakan Aus dan Khazraj. Begitu api konflik menyala, beliau segera mendatangi, meluruskan, dan meredakannya sebelum membesar.

Jika dibaca sebagai cermin kehidupan, ayat ini mengingatkan bahwa Allah menyaksikan setiap keputusan yang kita ambil setelah mengetahui sebuah kebenaran.

Apakah kita memilih diam, ikut menyangkal, membiarkan luka lama membakar persaudaraan, atau justru berdiri merawat persatuan yang ada!? Wallahu a'lam bish-shawab, Semoga refleksi ini membawa keberkahan dan kemanfaatan.

*)Refra Elthanimbary, tinggal di www.nestref.com

0 Komentar

Type above and press Enter to search.