Akal Pikiran

Setiap manusia hidup dalam realitas yang berbeda. Perbedaan itu muncul dari cara pandang dan jalan pikiran yang tidak pernah sama sejak manusia pertama kali diciptakan oleh Allah Swt. Itulah sunnatullah, ketetapan yang tak bisa digugat oleh siapapun, selama kita masih berstatus sebagai makhluk di muka bumi ini.

Sebagaimana bumi yang terus berputar pada porosnya, hidup manusia pun berjalan di atas garis takdir yang telah ditetapkan. Ia akan terus berputar, terus berjalan, hingga nadi berhenti berdetak. 

Dalam perjalanan itu, setiap orang bebas mengembara dengan akal pikirannya yang luas meski terkadang, pandangan dan perasaannya sendiri begitu sempit.

Begitulah “Pengembaraan Akal Pikiran”

Ia tidak akan pernah sampai pada kepuasan yang sejati, tidak akan pernah berhenti hanya karena telah menemukan banyak hal. Sebab ujung dari segala pencarian bukanlah pengetahuan, melainkan kepulangan. Kembali kepada hati tempat yang tidak bisa berbohong kepada Pemiliknya.

Sekalipun seluruh isi bumi dan alam semesta berhasil dijelajahi dengan akal, pada akhirnya manusia akan sampai pada titik yang sama, yaitu pengakuan, kejenuhan, dan ketundukan kepada Allah Swt.

Akal pikiran kita sejatinya sempit, meski dalam pandangan kita tampak luas. Kadang kita begitu percaya diri, seolah jalan yang kita tempuh inilah akhir dari segala pencarian. Namun, apakah akal benar-benar mampu memberi jaminan atas kebenaran itu?

Berpikirlah!

Dengan pikiran yang terbatas itu, semoga hati kita justru menjadi lebih luas. Sebab, jawaban-jawaban di kepala hanyalah serpihan kecil dibanding kedalaman makna yang disimpan hati.

Akal yang kita “sembah” kadang tak lebih dari sebuah resonansi atas sesuatu yang kita dengar, kita ikuti, tapi tak tahu pasti dari mana datangnya. Ia tidak bisa dibuktikan tanpa ukuran dan aturan dari Sang Pencipta Jagat Raya, Allah Swt.

Lalu, ke samudra mana pikiran itu akan kita bawa berlayar?

Di mana akan kita labuhkan perahu kecil itu?

Ataukah justru kita biarkan bocor, lalu tenggelam bersama liarnya pikiran yang tak pernah kita arahkan menuju Pemiliknya?

Mari berakal-pikiran, tapi selalu dengan sandaran kepada-Nya.

Dengan begitu, samudra yang kita arungi, meski luas dan dalam, akan tetap tenang. Tidak akan ada badai, tidak akan ada gelombang besar yang menenggelamkan.

Sebab, segalanya memang tampak luas jika diukur dengan pandangan mata dan akal pikiran semata. Namun, jangan sampai keluasan itu hanyalah fatamorgana, ilusi yang menyesatkan langkah kita dari tujuan akhir yang sesungguhnya.

Tujuan sebagai manusia.

Sebagai makhluk.

Sebagai seorang pengembara, yang akhirnya akan pulang kepada-Nya.

Refra Elthanimbary, nestref.com

0 Komentar

Type above and press Enter to search.