Empat Macam Keinginan ala Candra Malik
Saya menonton sebuah podcast yang isinya Gus Candra Malik bersama Mbah Sudjiwo Tedjo. Percakapan mereka sederhana, santai, tetapi setiap kata yang terucap seolah menembus lapisan kesadaran saya.
Di obrolan itu, Gus Candra menyampaikan tentang empat
macam keinginan manusia yang ia sampaikan kepada Mbah Tedjo, terdengar sederhana, namun ketika
direnungkan, terasa sangat dalam dan membuka ruang untuk introspeksi.
Menurutnya, manusia hidup bersama berbagai macam keinginan yang saling berkelindan. Keinginan ini bukan sekadar dorongan untuk memiliki atau mengejar sesuatu. Lebih dari itu, keinginan yang muncul bisa saja memetakan motivasi, kesadaran diri, dan kedewasaan batin seseorang.
Saya mencoba merenungkannya
satu per satu, dan pengalaman itu terasa seperti membaca peta perjalanan batin
saya sendiri.
Pertama, ada keinginan yang lahir murni dari dalam diri, tanpa pengaruh eksternal, tanpa tekanan dari norma atau opini orang lain. Ia disebut “ingin untuk ingin”. Ketika Gus Candra menjelaskannya, saya membayangkan sebuah mata air jernih yang mengalir dengan sendirinya.
Keinginan ini tulus, jujur, dan sejalan dengan hati nurani. Ia mendorong kita sebagai manusia untuk melakukan hal-hal yang benar-benar bermakna, bukan sekadar mengikuti tren atau ekspektasi sosial. Tidak perlu riuh, tidak perlu membuktikan apa-apa kepada siapa pun. Hanya gerak yang datang dari dorongan batin yang paling tulus.
Lalu Gus Candra berbicara tentang keinginan yang justru ingin menahan keinginan itu sendiri, yaitu; “ingin untuk tidak ingin”. Fase ini terasa seperti taman yang diberi pagar untuk meneduhkan tanaman. Seperti halnya, kita sebagai seorang manusia yang terus belajar menahan diri dari keinginan yang bisa merusak, dari ambisi yang dangkal, dari hasrat yang hanya menguras energi batin.
Saat mendengar bagian ini, saya tersadar bahwa sebagian besar konflik internal dalam diri seseorang berasal dari ketidakmampuan menahan diri, dari kesulitan memilih mana yang layak dikejar dan mana yang sebaiknya dilepaskan.
Keinginan untuk menahan diri adalah bentuk
kesadaran diri yang dalam, dan saya membayangkannya sebagai latihan batin yang
terus-menerus, setiap hari.
Selanjutnya, ada keadaan yang lebih sunyi, ketika seseorang bahkan tidak memiliki keinginan untuk menginginkan apa pun; “tidak ingin untuk ingin”. Gus Candra menjelaskan fase ini dengan kata-kata sederhana, tetapi maknanya begitu dalam.
Kadang, kita berhenti mengejar karena lelah, karena pasrah, bahkan karena menemukan kedamaian yang lahir dari menerima apa adanya.
Saya membayangkan duduk di sore hari, menatap langit yang perlahan gelap, merasakan hidup yang berjalan tanpa harus dipaksa. Tidak ada target, tidak ada tuntutan, hanya hadir dan menerima. Ada ketenangan yang lahir di situ, walaupun kadang sepi terasa berat.
Keadaan ini mengajarkan bahwa
hidup tidak selalu harus dipenuhi dengan dorongan dan pencapaian, kadang jeda
itu sendiri adalah hadiah yang paling berharga.
Dan akhirnya, Gus Candra membahas tahap yang paling membebaskan, ketika seseorang tidak ingin menahan keinginannya, tetapi juga tidak ingin mengejarnya; “tidak ingin untuk tidak ingin”. Fase ini terasa seperti berada di tengah angin sepoi-sepoi yang bergerak bebas tanpa arah yang pasti. Bukan tentang menyerah pada keinginan, bukan pula tentang mengejar secara obsesif.
Lebih kepada kebebasan dari belenggu keinginan diri itu sendiri. Sehingga seakan kita terus mampu melepaskan keterikatan duniawi, berdamai dengan diri sendiri, dan menemukan ketenangan batin yang hakiki.
Mbah Sudjiwo Tedjo, yang sesekali
menanggapi dengan senyum dan keheningan bijaknya, seolah menegaskan bahwa
inilah bentuk kemerdekaan yang paling tulus, tenteram tanpa alasan, hadir tanpa
terganggu oleh dorongan apapun.
Dari penjelasan Gus Candra itu, saya menyadari bahwa empat macam keinginan ini bukan kategori kaku yang harus kita pilih salah satunya.
Hidup manusia bergerak naik turun, silih berganti di antara keempat keadaan itu.
Pagi hari kita mungkin berada pada keinginan yang jernih dan tulus, siang hari terjebak pada keinginan yang perlu ditahan, sore hari mungkin memasuki keheningan yang pasif, dan malamnya merasakan kebebasan penuh dari segala dorongan.
Semua itu adalah ritme perjalanan batin yang terus berjalan,
berubah, dan menuntut kesadaran diri sebagai seorang hamba dimana-pun posisi atau garis takdir kita sekarang ini.
Bagi saya, memahami keempat keinginan ini bukan sekadar soal mengenali diri sendiri, tetapi juga soal menata hidup. Kita belajar kapan harus mengejar, kapan harus menahan, kapan perlu berhenti, dan kapan harus melepaskan.
Keinginan tidak perlu dimusuhi; ia hanyalah teman perjalanan. Jika kita mampu membaca dan menata keinginan kita dengan bijak, mungkin dari situlah lahir ketenangan yang sesungguhnya, yaitu sebuah hidup yang seimbang, harmonis, dan penuh makna, Allahu A'lam.
*)Refra Elthanimbary, nestref.com
Petungsewu, Jawa Timur, 14/11/2025.

0 Komentar