Sesat Pikir Bahlil dan Pelajaran Iqra’ Bismi Rabbik
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil
Lahadalia beberapa hari lalu menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto
menyetujui penerapan mandatori pencampuran etanol 10% (E10) pada BBM jenis
bensin.
Menurut Bahlil, langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah
menekan impor bensin. Saat ini, sekitar 60% kebutuhan bensin nasional masih
dipenuhi dari impor, atau sekitar satu juta barel per hari. Pernyataan ini
disampaikan dalam acara detikSore on Location: Indonesia Langgas Energi,
di Anjungan Sarinah, Jakarta, Selasa (07/10).
Secara permukaan, pernyataan ini terdengar logis: mengurangi
impor adalah langkah strategis, memanfaatkan bahan bakar domestik, dan
mendukung energi bersih. Namun, cara Bahlil membingkai masalah menimbulkan
keganjilan. Ia seolah memberi sinyal moral: mendukung E10 berarti cinta
lingkungan, cinta Indonesia, dan anti-impor; menolak berarti menolak negeri
sendiri.
Pelajaran dari Iqra’ Bismi Rabbik
Di sisi lain, ada pelajaran penting dari wahyu pertama yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW:
“Iqra’ bismi rabbik alladzi khalaq” – Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. (QS. Al-‘Alaq: 1)
Pesan ini tidak sederhana, maknanya mendalam: sebelum
berbicara, sebelum memimpin, manusia diwajibkan membaca, memahami, dan
menimbang pengetahuan dengan kesadaran akan Sang Pencipta.
Membaca di sini tidak hanya sekadar huruf atau angka, tapi memahami
realitas, data, dan konteks sebelum bertindak atau bersikap.
Pejabat publik seharusnya “iqra’” dulu sebelum berbicara:
membaca kondisi nyata, memahami kompleksitas kebijakan, dan menyampaikan solusi
berbasis bukti.
Menyederhanakan isu menjadi dilema moral bukan cerdas; itu
justru mengabaikan akal sehat rakyat dan tanggung jawab jabatan.
Logika yang Terjebak Dikotomi Palsu
Pernyataan Bahlil merupakan contoh false dilemma atau
dikotomi palsu. Publik dipaksa memilih hanya dua opsi: pro-E10 berarti
nasionalis, kontra berarti anti-negeri. Padahal kenyataannya jauh lebih
kompleks.
Masih ada banyak pertanyaan penting: Apakah kapasitas
produksi etanol nasional mencukupi untuk mandatori 10%? Bagaimana dampaknya
pada kendaraan lama dan infrastruktur SPBU? Apakah biaya produksi dan
distribusi etanol bisa menjaga harga BBM tetap stabil? Apakah kualitas etanol
yang dicampur memenuhi standar keselamatan dan lingkungan?
Menutup pertanyaan-pertanyaan ini dan menggantinya dengan
moralitas semu meniadakan ruang publik untuk berpikir kritis. “Iqra’ bismi
rabbik” bukan sekadar ajakan spiritual, tapi juga pedoman rasional: sebelum
memutuskan atau memerintah, baca, pahami, dan pertimbangkan.
Menolak atau meragukan kebijakan bukan berarti menentang
energi bersih. Rakyat yang kritis hanya ingin memastikan kebijakan dijalankan dengan
aman, efisien, dan berbasis data.
Jika pertanyaan logis dianggap ancaman, publik kehilangan
kesempatan untuk ikut membangun kebijakan yang realistis.
Produksi etanol terbatas, kesiapan SPBU, dan variasi
kendaraan di lapangan bukan sekadar persoalan teknis; ini adalah masalah
implementasi yang nyata.
Bahasa pejabat publik yang mengubah isu teknis menjadi
masalah moral seakan menempatkan rakyat sebagai penonton pasif, bukan peserta
aktif. Alih-alih transparan dengan data, pejabat publik memilih drama moral
untuk menekan pertanyaan.
Rakyat Tidak Bodoh
Hari ini, rakyat lebih cerdas dari yang disangka. Mereka
membaca, menonton ulasan ahli, dan berdiskusi di media sosial. Mereka mampu
menilai mana data, mana retorika.
Ketika kritik dianggap pengkhianatan, yang sebenarnya
dilakukan pejabat adalah menghina kecerdasan publik. Padahal kritik seharusnya
diterima sebagai bagian dari proses demokrasi dan pengambilan keputusan yang
matang.
Transisi energi memang penting, tapi tidak bisa dibangun
dengan logika “kalau tidak ikut berarti melawan.” Kebijakan strategis seperti
E10 membutuhkan dialog terbuka, keterlibatan publik, transparansi data, dan
kesiapan implementasi.
Menolak false dilemma bukan berarti menolak etanol. Itu
justru bentuk kecintaan pada negeri, karena bangsa yang maju adalah bangsa yang
berani berpikir kritis, menimbang risiko, dan membuat keputusan berdasarkan
bukti, bukan retorika moral ini yang disebut dengan proses ber-al ‘alaq, tahap
awal membaca dan memahami sebelum bertindak.
Kembalikan Akal Sehat Publik
Sesat pikir pejabat publik lebih berbahaya daripada
kesalahan teknis. Ia mematikan kemampuan rakyat untuk berpikir kritis dan
menumbuhkan ketakutan agar semua orang setuju.
Rakyat tidak minta banyak. Kami ingin pejabat berbicara dengan
logika, bukan tekanan moral. Kami ingin diajak berpikir, bukan digiring untuk
percaya.
Bangsa ini tidak akan maju dengan logika “kalau tidak ikut
berarti melawan.”
Bangsa ini hanya akan maju bila akal sehat publik dihormati, data dijadikan
dasar, dan rakyat diberi ruang untuk bertanya bahkan ketika itu berarti berbeda
pandangan dengan penguasa.

0 Komentar