Saat Manusia Berhenti Menyapa Langit

 

(Refleksi dari Indonesia Jelang Satu Abad, hlm. 188)

"Kehidupan bumi tanpa sapaan Langit sungguh akan kacau dan runyam." 
Kalimat Prof. Syafii Maarif itu terasa sederhana, tetapi mengandung peringatan yang panjang gaungnya. 

Ia tidak sedang bicara soal runtuhnya langit atau murka Tuhan, melainkan tentang hilangnya orientasi manusia ketika hidup sepenuhnya disandarkan pada dirinya sendiri.

Dalam dunia yang semakin riuh oleh prestasi, kekuasaan, dan angka-angka, manusia kerap merasa cukup dengan akalnya. Segalanya bisa diatur, dihitung, direkayasa. 

Namun justru di sanalah kekacauan perlahan tumbuh. Bukan karena kurangnya aturan, tetapi karena arah yang kian kabur. Kita pandai membangun sistem, tetapi lupa menanyakan untuk apa semua ini?

Tuhan, kata Buya Syafii, tidak tersinggung oleh kelalaian manusia. Ia hanya “merasa iba”. 

Iba melihat makhluk terbaik ciptaan-Nya terjebak pada kerakusan, merasa paling berhak, lalu menciptakan tuhan-tuhan kecil dari ambisi dan angan-angannya sendiri. 

Ketika manusia menuhankan ego, jabatan, atau ideologinya, saat itu pula ia kehilangan dirinya sendiri.

Membaca ini sambil ngopi di kamar yang sunyi, saya merasa sedang diajak berhenti sejenak. Mungkin sapaan Langit itu tidak selalu hadir dalam bentuk perintah keras atau ritual besar. 

Ia bisa berupa kesadaran sederhana, bahwa hidup ini bukan sekadar tentang menguasai, melainkan tentang mengingat. 

Mengingat batas, mengingat tujuan, dan mengingat bahwa manusia tetaplah manusia bukan tuhan, apalagi pengganti-Nya.*

0 Komentar

Type above and press Enter to search.