Social Climber dan Budaya Pencitraan

Hidup berkecukupan adalah impian banyak orang. Ada yang nyaman tampil apa adanya, ada pula yang merasa perlu terlihat luar biasa. Masalahnya, di zaman media sosial, “terlihat” sering kali lebih penting daripada “menjadi”.

Perilaku memamerkan kemewahan barang bermerek, tempat elit, gaya hidup serba mahal kini dianggap wajar. Linimasa dipenuhi foto kafe estetik, tas berlogo besar, jam tangan mencolok, dan potret liburan yang tampak sempurna. Secara hak, tentu itu sah. Media sosial adalah ruang pribadi. Namun ketika pamer menjadi kebutuhan, di situlah persoalan dimulai.

Fenomena ini dikenal sebagai social climber: mereka yang mengejar pengakuan status sosial melalui citra. Tujuannya sederhana ingin dipandang berada, ingin dianggap sukses, ingin diakui. Bukan soal kaya atau tidak, tapi soal terlihat kaya.

Ironisnya, demi citra itu, jati diri sering dikorbankan. Banyak yang tampil elegan, berkelas, bahkan “mahal”, padahal jauh dari realitas hidupnya sendiri. Keaslian barang menjadi urusan sekundern asli atau KW tak lagi penting. Yang penting eksis. Yang penting terlihat.

Bahkan ruang publik pun berubah menjadi panggung pencitraan. Gedung megah, restoran estetik, hingga sudut kota yang Instagramable dijadikan latar foto demi satu tujuan: validasi. Like, komentar, dan pujian menjadi mata uang baru harga diri.

Yang lebih menyedihkan, upaya pencitraan ini sering justru lahir dari kegelisahan ekonomi dan krisis identitas. Ketika hidup belum mapan, citra dijadikan penopang harga diri. Ketika realitas tak cukup membanggakan, ilusi visual dijadikan sandaran.

Fenomena ini tidak berhenti pada individu. Ia menjalar ke ruang kekuasaan.

Banyak pemimpin juga terjebak dalam logika yang sama: ingin terlihat sempurna. Keberhasilan dipoles, kegagalan disembunyikan. Dana besar digelontorkan untuk membangun citra membayar media, menyusun narasi, bahkan menciptakan simbol-simbol kesalehan dan kepahlawanan. Ingin tampak saleh seperti Umar bin Khattab, ingin terlihat gagah seperti Gatotkaca.

Padahal negara dijalankan di dunia nyata, bukan di linimasa.

Pencitraan, seperti social climber, adalah upaya menutup kekosongan dengan tampilan. Semakin seorang pemimpin menonjolkan kelebihan, semakin publik sibuk mencari celah. Hukum alamnya sederhana: yang ditinggikan berlebihan, akan diuji lebih keras.

Rakyat pun terbelah. Satu kubu sibuk menebalkan citra, kubu lain tak henti menyoroti cela. Negara berubah menjadi arena persepsi, bukan arena kerja nyata.

Ingin terlihat sempurna justru bukan tindakan yang sempurna. Sebab manusia, pada hakikatnya, adalah makhluk yang rapuh tempat salah dan lupa. Dan justru keberanian mengakui keterbatasan adalah bentuk kedewasaan.

Menjadi apa adanya mungkin tak selalu indah di kamera. Tapi ia lebih jujur. Dan kejujuran, dalam jangka panjang, selalu lebih bermakna daripada pencitraan.

Wallāhu a‘lam.

*) Refra Elthanimbary

0 Komentar

Type above and press Enter to search.