Yang Kenyang Narasi, yang Lapar Evaluasi
Maghrib menjelang Isya', saya duduk tenang.
Es kopi buatan istri sudah tinggal air yang tawar.
Di tangan, buku kumpulan puisi pinjaman dari Perpus TISMA; Buku Latihan Tidur karya Joko Pinurbo.
Puisi itu tidak butuh medali untuk terasa tulus.
Di layar laptop, saya membaca pernyataan Kepala BGN:
“Penganugerahan Presiden memotivasi kami.”
Tanda kehormatan dari Presiden Prabowo Subianto disebut sebagai bentuk apresiasi untuk seluruh pihak yang terlibat dalam program MBG.
Saya berhenti.
Motivasi itu baik.
Tapi yang lebih penting dari motivasi adalah evaluasi.
Karena di luar sana, bahan pokok naik tanpa penghargaan.
Pasar-pasar makin sunyi tanpa seremoni.
PHK terjadi tanpa medali.
Pengangguran tidak termotivasi oleh tanda kehormatan.
Dulu ada janji 19 juta lapangan kerja dari cawapres yang belums cukup usia, penuh keyakinan!
Sekarang ia terdengar seperti angka yang lebih sering dipuji daripada diuji.
Katanya 19 ribu ekor sapi dipotong tiap hari, jelas, terukur, konkret.
Tapi 19 juta pekerjaan?
Masih dipotong jadi pidato-pidato omong kosong!
Guru belum sejahtera.
Pendidikan belum merata.
Kemiskinan belum selesai.
Rumah tak layak huni masih berdiri.
Air bersih belum mengalir adil.
Korupsi belum benar-benar kehilangan kursi.
Lalu penghargaan datang.
Produksi motivasi meningkat dari negara, agar terlihat semua baik-baik saja!
Saya hanya bertanya sederhana:
kalau program ini benar-benar untuk generasi,
mengapa yang lebih cepat diberi kehormatan adalah pengelolanya,
bukan dampaknya?
Puisi di tangan saya terasa lebih jujur, daripada janji 19 juta lapangan kerja!
Ia tidak berkata “kami termotivasi”.
Ia hanya bekerja dalam diam.
Di negeri ini, kita terlalu cepat memberi medali,
terlalu lambat memberi pertanggungjawaban.
Dan mungkin yang paling dibutuhkan generasi hari ini
bukan motivasi tambahan,
melainkan keberanian untuk berkata:
apa yang belum berhasil, dan siapa yang harus bertanggung jawab?.*

0 Komentar